Jadikan Iran Musuh Bersama, Saudi dan Israel kian Mesra

Oleh: Elang

Baru-baru ini Israel membuat keributan di jalur Gaza, aksi tersebut langsung mendapatkan reaksi dari Hamas dengan meluncurkan 300 roket sebagai serangan balasan ke Israel. Hal tersebut membuat Israel meminta gencatan senjata dan Mentri Pertahanan Israel Lieberman mundur dari jabatannya. Menariknya seprti yang dilaporkan Middle East Eye (MEE) serangan Israel tersebut merupakan upaya Pangeran Saudi Mohammad bin Salman (MBS) dalam membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memulai konflik dengan Hamas di Gaza.

Perang tersebut dinilai dapat mengalihkan perhatian AS kepada menjaga stabilitas Israel dan meredam isu yang kian membesar  seputar pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi.

Pada 2 Oktober lalu, Khashoggi dikabarkan hilang dan meninggalkan jejak di Kedutaan Saudi Istanbul Turki. Meski membantah terlibat dalam kasus hilangnya Khashoggi, tetapi media-media internasional ramai memberitakan putra mahkota Bin Salman terlibat dalam kasus tersebut.

Jurnalis MME David Hearst menulis, perancang skenario tersebut adalah satu tim satuan tugas (satgas) darurat yang terdiri dari pejabat istana kerajaan, kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, dan dinas intelijen Saudi.

Menanggapi kasus tersebut Snowden membeberkan bahwa Saudi menggunkaan spyware alat penyadap buatan Israel untuk menyadap dan memata-matai keberadaan Khashoggi hingga akhirnya dibunuh. Hal tersebut semakin menunjukkan kecurigaan publik bahwa Saudi dan Israel diam-diam jalin kedekatan.

Kedekatan Israel-Saudi mulai muncul dipermukaan sejak lima tahun terakhir, seperti dilansir pada laman NBC News dalam jangka waktu tersebut Israel dan Saudi sudah sering melakukan pertemuan-pertemuan informal.

Dalam pandangan tradisional, hubungan antara Saudi dan Israel nampak aneh karena Saudi yang selalu menunjukkan dirinya sebagai khadim haramain terkesan ganjil apabila jalin hubungan apalgi kerja sama dengan Israel yang dikenal sebagai penjajah Palestina.

Namun, lima tahun belakangan ini David Hearst diantara sekian banyak analis dunia yang paling sering mempublikasi kedekatan Saudi dan Israel. Hearst sebagaimana yang dimuat di MME, Saudi dan Israel jalin hubungan yang kian mesra lantaran memiliki musuh yang sama: Iran.

Sejak AS sukses jatuhkan Saddam Husein pada 2003, AS beserta koalisinya alihkan target sasarannya ke Iran. Dan Saudi digandeng dalam koalisi sebagaimana AS tetap setia kepada Israel.

Selanjutnya tibalah Arab Spring (Musim Semi Arab) gerakan anti pemerintah bergrilya di negara-negara Arab, termasuk gerakan anti Assad Suriah. Sikap Iran yang mendukung Assad membuat polarisasi kian mengental. AS, Israel dan Saudi mendukung gerakan anti Assad, sedangkan Iran dan Rusia berada diblakang Suriah.

Pasca-Musim Semi Arab, mulai sekitar tahun 2012, Israel memandang Saudi sebagai penjamin stabilitas di Timur Tengah. Pertemuan-pertemuan informal mulai dijalankan, terutama untuk menangkal pengaruh Iran dan mengerahkan dukungan militer untuk kelompok pembrontak militan di berbagai negara.

Retorika perdamian di Timur Tengah mulai keluar dari mulur kedua negara, Ofer Zalzberg mengatakan pada Al Jazeera dari International Crisis Group bahwa perubahan peta politik saat ini harus berubah karena mempertimbangkan perdamain Palestina-Israel.

Zalzberg melanjutkan “Lahirnya aliansi Saudi-Israel yang makin terbuka akan menghalangi Iran. Dalam banyak hal, adalah sangat rasional untuk memajukan proses perdamaian Israel-Palestina melalui poros Washington-Riyadh,”.

Kobi Michael, peneliti senior di Institite for National Security Studies di Tel Aviv University, Israel, berkata pada Alsaafin bahwa Saudi dan negara-negara Arab (termasuk Mesir tapi kecuali Qatar) punya dua ancaman strategis. Pertama, Iran; dan kedua, gerakan Salafi atau gerakan Islam radikal.

“Sayangnya, ketiadaan AS membuat Rusia dan Iran bisa dengan mudah menginfiltrasi Suriah. Israel dipandang sebagai sekutu paling potensial dan yang paling bisa diandalkan. Ini saat yang tepat bagi Saudi untuk berteman baik dengan Israel” tambahnya.

“Saudi kini tidak punya lagi kewajiban sebesar dahulu untuk mendukung kemerdekaan Palestina, kata Michael. Ia juga menambahkan saatnya lah Saudi meningkatkan basis keagamaannya sebagai penjaga dua kota suci yaitu Mekkah dan Madinah.

Satu dekade lalu, keintiman Saudi-Israel menjadi rahasia umum, pejabat kedua negara tidak pernah tunjukkan di depan publik. Tetapi saat ini pelan-pelan keintiman kedua negara tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Netanyahu dan MBS makin vokal mengomentari berbagai isu politik, dan sinyal yang terbaca adalah makin solidnya kolaborasi kedua negara.

Awal April lalu, The Atlantic menerbitkan wawancara eksklusif Jefrey Goldberg dengan MBS. Salah satu pertanyaan Goldberg adalah meminta pendapat MBS terkait hak bagi orang Yahudi untuk memiliki negara sendiri Timur Tengah—setidaknya di bagian yang diklaim sebagai tanah leluhur.

Jawaban MBS, meski selaras dengan sikapnya selama ini, tetap menjadi sensasi di berbagai media massa.

“Saya percaya bahwa tiap orang, di manapun ia berada, memiliki hak untuk hidup di negara yang damai. Saya percaya orang Palestina dan Israel punya hak untuk memiliki tanahnya sendiri” jawab MBS.

Kemudian MBS menambahkan “tapi kita harus memiliki sebuah kesepakatan damai untuk menjamin stabilitas untuk semua orang dan untuk memiliki hubungan yang normal”.

Bagi Saudi, israel adalah negara yang kaya memiliki pertumbuhan ekonomi sangat pesat jika dibandingkan dengan luas wilayahnya, hal ini juga yang membuat Saudi tertarik jalin kerja sama dengan Israel. MBS menekankan syaratnya adalah stabilitas kawasan. Ini mungkin menjadi jawaban untuk pertanyaan Goldberg tentang benarkah Iran membuat hubungan Israel-Saudi kian mesra.

Dikesempatan yang lain, saat publik ramai-ramai mengecam keterlibatan Saudi atas pembunuhan Khashoggi, Netanyahu memberikan respon yang berbeda dengan menegaskan yang terpenting kestrabilan Saudi.

“Apa yang terjadi di konsulat Istanbul mengerikan dan harus diusut. Tetapi di saat bersamaan, Arab Saudi mesti tetap stabil sebab sangat penting bagi stabilitas kawasan dan dunia,” katan Netanyahu sebagaimana yang dikutip dari Times of Israel.

Meski keluar dari topik Khasoggi, Netanyahu tak lupa mengingatkan sembari menuduh Iran teroris. Iran adalah musuh besar Israel. Baginya Iran adalah masalah yang lebih besar ketimbang kasus Khashoggi, dan pemerintahannya sedang memastikan agar Iran tidak lagi jadi masalah bagi dunia.

“Kami telah membantu mengungkap dua serangan teroris—satu di Paris, dan satu lagi di Kopenhagen—yang diinisiasi oleh dinas rahasia Iran. Memblokir Iran adalah puncak dari agenda kami dari segi keamanan. Bukan hanya untuk Israel tetapi saya percaya juga untuk Eropa dan dunia” tambahnya.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *