Kalimantan Barat adakan Peringatan Hari Solidaritas Internasional Al Quds 2019

Masyarakat Kalimantan Barat dari beberapa organisasi melakukan aksi Solidaritas Internasional Al Quds pada Jumat (31/5) di taman Tugu Digulis Pontianak. Dimulai sejak pukul 16.00, sekitar 150-an massa aksi tersebut meneriakkan yel-yel anti penjajahan di bumi Palestina.

Menurut Koordinator Aksi, Reza, kegiatan ini merupakan rutinitas tahunan yang digelar untuk memperingati penjajahan yang dilakukan rezim zionis di Palestina. Sejak Nakba 1948 hingga kini, lebih dari lima juta rakyat Palestina hidup dalam pengungsian. “Lebih dari 70 tahun masyarakat Palestina terjajah, terusir dari kampung halamannya, serta harus menjadi pengungsi di berbagai negara. Tentu hal ini tak bisa didiamkan begitu saja,” ucap mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini.

Ia menambahkan bahwa diam terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan rezim zionis adalah kehinaan bagi bangsa-bangsa yang merdeka. “Para Nabi yang pernah mengukir sejarah di Tanah Palestina menyerukan kemerdekaan umat manusia. Sehingga apabila para pengikut ajaran Nabi membiarkan penjajahan ini terjadi, maka itu merupakan pengkhiatan terhadap ajaran suci tersebut,” tambahnya lagi.

“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, demikian kutipan Pembukaan UUD 1945. Kalimat itu merupakan wasiat abadi bagi bangsa Indonesia untuk memastikan keberpihakan kita terhadap Palestina. Apalagi besok akan kita peringati sebagai Hari Kelahiran Pancasila, sehingga peringatan Hari Solidaritas Internasional Quds tahun ini sangat istimewa untuk negara kita,” ucapnya lebih lanjut.

 “Dukungan kita mengharuskan sikap secara materiil. Suara dan pengorbanan kita hari ini tak seberapa dibandingkan perjuangan kelompok-kelompok pembebasan Palestina. Selain itu juga, pada kesempatan ini ada beberapa poin yang menjadi tuntutan kami untuk pemerintah Indonesia dan dunia internasional,” tegasnya.

Beberapa isu kekinian juga diangkat dalam orasi, yakni yang terkait dengan Kesepakatan Abad Ini atau dikenal dengan Deal of The Century. Menurut Reza, yang berhak menentukan lahirnya kesepakatan perdamaian di bumi Palestina bukanlah negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, israel, atau negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, melainkan bangsa Palestina sendiri. “Kami menolak pertemuan yang digagas antek-antek zionis itu, karena solusi untuk konflik di Palestina adalah dengan menghapus israel dari peta dunia, bukannya berdamai,” pungkasnya.

Ada beberapa poin pernyataan yang menjadi titik tekan dalam aksi kali ini, yaitu, pertama, mengutuk segala bentuk penjajahan yang dilakukan rezim zionis Israel terhadap bangsa Palestina, termasuk mengutuk segala bentuk neo-imperialisme yang dilakukan antek-antek zionis di seluruh dunia. Kedua, Mengajak masyarakat dunia untuk melakukan boikot, divestasi, dan sanksi kepada rezim zionis Israel sebagai bentuk perlawanan global. Ketiga, menolak solusi dua negara dan perdamaian dengan Israel yang diusulkan amerika serikat dan sekutu-sekutu mereka. Karena hanya ada satu solusi untuk Palestina: Solusi Satu Negara, Palestina yang berdaulat. Keempat, mendesak pemerintah Indonesia untuk menjadikan isu Palestina sebagai prioritas dalam kebijakan politik luar negeri, sekaligus memastikan dukungan finansial untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.

Selain berorasi, aksi Solidaritas Palestina Internasional ini juga diisi dengan pembacaan puisi dan penampilan lagu-lagu bertema Palestina oleh Sanggar Bougenville dan Komunitas Pemusik Jalanan. “Kami mengajak setiap elemen untuk bersama-sama memperlihatkan empati kita terhadap penderitaan rakyat Palestina. Palestina bukanlah tentang agama, tapi tentang kemanusiaan, tentang keadilan, tentang kesucian yang dikhianati,” paparnya.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *