Refleksi Hari Solidaritas Internasional Al Quds

Avant-provost: Tak Sedamai Yang Dikira

Kemarin, Sabtu (1/6), terdengar kabar peringatan Hari Solidaritas Al Quds Internasional yang diadakan di Provinsi Kaduna, Nigeria mendapatkan serangan dari aparat keamanan. Sontak tembakan tersebut memecah aksi yang diikuti ribuan peserta – terdiri atas pria, wanita, dan anak-anak sembari berjalan meneriakkan “Takbir” dan “Bebaskan Pemimpin Kami!”

Aksi Solidaritas Al Quds Internasional di Kabuda, Nigeria

Selain menyuarakan kemerdekaan Palestina, aksi damai yang rutin digelar setiap Jumat terakhir Ramadhan tersebut memang dijadikan momentum massa aksi damai untuk menuntut pembebasan pimpinan kelompok pejuang mustadh’afin Nigeria, Syeikh Ibrahim Zakzaky – bersama istrinya – yang ditahan hampir 2 tahun tanpa pengadilan oleh rezim Muhammadu Buhari.

Sebelumnya diberitakan sejumlah besar anggota polisi dengan kendaraan tempur berpatroli keliling di Kaduna. Hingga secara tiba-tiba mereka melepaskan tembakan dan gas airmata tanpa peringatan ke arah peserta aksi, sehingga menimbulkan kepanikan di Ahmadu Belo, jalan terpadat di provinsi Kaduna.

Islamic Movement in Nigeria (IMN), sebagai pelaksana kegiatan menyatakan bahwa polisi tidak menembakkan senjata ke udara – sebagaimana diberitakan oleh pihak keamanan, melainkan diarahkan pada peserta aksi damai. Atas tragedi ini, banyak peserta aksi yang terluka dan ditahan. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui dengan pasti mengenai korban jiwa yang meninggal dalam tragedi itu. Darah yang mengalir di Kaduna itu jadi teman bagi darah dan airmata yang menetes di Gaza, ketika aksi sejenis berlangsung damai di penjuru dunia.

Ruh Al Quds Yang Menghidupkan

Sejak dilaksanakan pertama kali 40 tahun silam, Hari Solidaritas Al Quds Internasional telah membara bagai api yang membangkitkan ruh-ruh perlawanan kaum tertindas. Semangat pembebasan menggeliat menembus dada para pejuang dengan kepalan tangan terarah kepada para Namrud dan Fir’aun milenial. Hari ini mampu menggetarkan istana megah perlambang kedigdayaan raja-raja bengis, serta meruntuhkan singgasana keangkuhan dan arogansi makhluk bejat. Karena itulah, sedamai apapun aksi ini dihelat, tetap saja akan mengganggu dan membuat gerah para penghamba iblis.

Teriakan “Mampus israel!”, “Mampus Amerika!”, “Mampus zionis!”, bergerak bagai bulldozer dengan daya gerak ribuan tenaga kuda yang mengancam eksistensi kekuatan-kekuatan arogan. Gerakan ini mampu tetap hidup, bahkan mendunia – alih-alih musuh-musuh mengira Palestina yang terjajah akan dilupakan. Ya, negara-negara adidaya itu menyangka kita akan lupa atas okupasi di tanah para Nabi. Mereka keliru!

Setiap tahunnya peringatan Hari Solidaritas Al Quds Internasional bergerak bagai air bah. Daya tariknya mampu mendekatkan berbagai agama, lintas etnis, multi bahasa, untuk melangkah menuju Al Quds dan meneriakkan kemerdekaan Palestina. Dalam film Alita; Battle Angel, Dr. Dyson Ido mengatakan, “Ruh seorang pejuang membutuhkan tubuh seorang pejuang.” Sepertinya ia keliru, karena ruh Hari Solidaritas Al Quds Internasional telah membentuk tubuh manusia-manusia sadar itu menjadi tubuh pejuang, tak peduli seberapa renta, cacat, atau lumpuh mereka.

Al Quds hanya bagi mereka yang telah meruntuhkan individualisme dan egoismenya. Al Quds tidak untuk mereka yang berteriak “Merdeka Palestina!” tetapi masih menganggap problema individual mereka sebagai yang utama. Manusia-manusia seperti itu takkan bisa menyatukan diri dalam roda besar Hari Solidaritas Al Quds Internasional. Al Quds adalah pemersatu umat manusia, dan syarat untuk bersatu adalah menghapus ke-aku-an.

Al Quds tak dipersembahkan bagi yang meminta ego mereka dimaklumi, karena gerakan konsolidasi akbar Jumat terakhir Ramadhan akan terus menggelinding dan menggilas orang-orang picik. Al Quds adalah cinta yang melahirkan ketaatan dan kepasrahan. Al Quds adalah untuk manusia-manusia merdeka yang hanya menyembah Tuhan, bukan penyembah diri sendiri!

Al Quds adalah Kesucian

Memperjuangkan kesucian memerlukan simbol nan suci pula. Kiblat suci itu adalah kiblat perjuangan. Tanah suci tempat para manusia suci pernah menerima dan mendakwahkan firman-firman suci itu harus diperjuangkan dalam atmosfer kesucian, sehingga Ramadhan yang kudus dan Jumat agung menjadi pilihan terbaik. Berdampingan dengan laylatul qadr – malam penentuan takdir semesta – yang suci pula, Hari Solidaritas Al Quds Internasional didirikan.

Hari tersebut adalah manifestasi dari seluruh keutamaan amal di bulan Ramadhan: bergerak menyempurnakan ritual ibadah personal menjadi ritual sosial. Sehingga kesucian Hari Al Quds adalah sama dengan sucinya ibadah-ibadah personal. Jika mi’raj shalat hanya terjadi dengan kekhusyukan seorang hamba, maka demikian pula mi’raj Hari Al Quds hanya terjadi dengan kesungguhan, keseriusan, bukan hanya drama berisi teriakan dan slogan kosong.

Ketika Sang Nabi SAW selesai dari mi’raj agungnya, beliau bawa pesan bagi manusia; pesan agung penghambaan terhadap Tuhan. Demikian pula mereka yang kembali dari mi’raj Hari Al Quds, jejak-jejak penghambaan itu harus melekat pada dirinya; jejak hamba-hamba yang merdeka dari egoisme dan arogansi. Agar keringat, airmata, dan darah yang mengalir di Palestina dan seluruh belahan dunia yang terjajah tak tumpah dengan sia-sia. (KP)

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *