More Than Work : Catatan Atas Tubuh Perempuan di Media

Nobar dan Diskusi Film More Than Work (Kabar Pandu)

Pontianak – Jurnalis Perempuan Khatulistiwa bekerjasama dengan komunitas Women’s March Pontianak mengadakan Malam Apresiasi Karya dengan menyelenggarakan nonton bareng dan diskusi Film More Than Work karya Luviana di Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalbar, Jalan Sutoyo Pontianak (12/09/19).

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut Dian Lestari sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kalbar dan Tuti Suprihatin dari LBH APIK Kalbar. Peserta yang hadir dalam acara tersebut berjumlah 46 orang dari berbagai himpunan, komunitas, organisasi dan kampus.

More Than Work adalah film yang bercerita tentang bagaimana kondisi perempuan di media. Bagaimana perubahan media baru, konten media yang banyak diperbincangkan saat ini, jarang membicarakan tentang potret perempuan di media. Juga jarang membicarakan persoalan yang menimpa pekerja-pekerja perempuan di media. Film ini banyak menceritakan kisah potret buram perempuan di Indonesia.

“Para perempuan yang bekerja di media misalnya, banyak mendapatkan penilaian atas tubuhnya: Konstruksi budaya inilah yang kemudian menjadikan orang-orang terbiasa melakukan penilaian terhadap tubuh perempuan. Konstruksi ini juga menyebabkan tubuh perempuan menjadi korban kekerasan seksual, dilecehkan, dianggap sensasional,” jelas Dian.

Pertumbuhan media yang begitu pesat  memberikan catatan penting bagi perempuan. Beberapa media bertumbuh secara positif, ini terlihat dari komitmen beberapa media dalam  menuliskan persoalan kekerasan yang menimpa perempuan. Namun banyak media juga yang senang menuliskan sensasionalisme tubuh perempuan.

“Media seperti ini juga tumbuh subur. Sensasi ini tidak hanya ada dalam tulisan, namun juga merambah pada bagaimana carap andang media terhadap pekerja perempuannya, juga bagaimana kebijakan yang kemudian mengatur tubuh perempuan,” ujar Tuti.

“Film dokumenter ini memang diproduksi untuk menjadi film yang bisa menjadi bagian dari kampanye agar tubuh perempuan dihargai, lebih-lebih tubuh para pekerja perempuan di media,” ujar Luviana, sutradara film ini.

Film yang berkisah tentang Dhiar, seorang perempuan pekerja media di Jakarta yang mendapatkan kekerasan seksual dari atasannya. Dhiar selama 5 tahun berjuang untuk menuntaskan kasusnya hingga ke pengadilan.

Kisah kedua adalah kisah Kumalasari, seorang artis yang harus menghabiskan uangnya karena ia selalu dibully hanya karena tubuhnya yang gemuk. Untuk mendapatkan peran utama di sebuah sinteron televisi ternyata tak mudah, para perempuan harus berjuang menjadi sesuatu yang dimaui industri media.

Kisah lain menimpa para pekerja minoritas seksual yang tak boleh muncul di televis ikarena pilihan seksualnya.

Film produksi Konde Production ini dilaunching di Jakarta pada 15 Juni 2019. Film yang mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi, Ford Foundation dan Wikimedia ini selanjutnya akan diputar secara berkeliling di berbagai kota di Indonesia. (AH)

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *