Dimensi Irfan Imam Khomaini (1)

Oleh : Andi Eka Putra

Imam Khomeini lebih dikenal sebagai tokoh Revolusi Islam Iran tahun 1978-1979 daripada seorang pemikir dan sufi di bidang ‘irfan. Padahal dalam hidupnya ia melaksanakan praktek kezuhudan yang berkaitan dengan tahap-tahap awal  jalan sufi, yakni melepaskan diri dari kenikmatan dan keinginan duniawi, berlaku sabar, memfakirkan diri, hidup dengan sederhana, berpuasa secara berkala. Menjadi sufi bagi Imam Khomeini tidaklah cukup dengan memfakirkan diri dan hidup zuhud, melainkan mampu mentransformasikan ajaran ‘irfan ke dalam kehidupan sosial. Seorang sufi memiliki tugas untuk  menegakkan keadilan sosial, melakukan kerja-kerja praksis di masyarakat.

Kesufian Imam Khomeini terlihat dari  kesederhanaannya, yang senantiasa menyesuaikan diri antara ucapan dan tindakan kesehariannya. Harta yang dimiliki Imam Khomeini hingga akhir hayatnya hanyalah  sebuah rumah sederhana yang telah diwakafkannya pada Dewan Revolusi, alat masak sekedarnya, tempat duduk belajar sekaligus untuk tidur, serta  beberapa alat ibadah dan   buku   di perpustakaan pribadinya. Ia tak memiliki kemewahan dan kekayaan, padahal bila ia ingin melakukannya, jalan ke arah  itu terbuka lebar untuk diraihnya.

Pemikiran Imam  Khomeini yang paling menonjol adalah kajian seputar masalah ‘irfan. Dalam  Mazhab Syi’ah di Iran, tidak dikenal istilah tasawuf, tapi ‘irfan. Dimensi ‘irfan dalam pandangan Imam Khomeini terungkap dalam istilah-istilah seperti riyadhah (latihan spiritual). Seseorang bisa saja menguasai istilah-istilah ‘irfan tetapi belum tentu dia mengalami dan menjalankan riyadhah. Atau dengan kata lain, ada orang  yang ahli  tentang ‘irfan dan ada pula orang yang mengamalkan langsung ajarannya. Imam Khomeini tak hanya  berhenti pada gagasan pemikiran tentang ‘irfan, tapi  ia juga mengamalkan ajaran itu.

Istilah ‘irfan sangat dekat dengan istilah ‘arif atau shufi. Perbedaan ini muncul, diantaranya karena istilah merupakan bagian dari ilmu hushuli sedangkan pengalaman-pengalaman spiritual adalah ilmu hudhuri. Syeikh Taqi  Misbah  Yazdi—dalam karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan dengan judul Ilmu Hudhuri—menjelaskan kedua macam pengetahuan ‘irfan, yakni  apa yang disebut dengan ilmu hushuli—ilmu yang diperoleh oleh seseorang melalui media atau perantara. Sedangkan ilmu hudhuri adalah ilmu yang diperoleh tanpa melalui media dan perantara.

Meskipun demikian, bukan berarti istilah tidak diperlukan. Istilah perlu  diketahui guna mempermudah penyampaian tentang sebuah ilmu pengetahuan, khususnya dimensi ‘irfan tersebut. Al-Qusyairi, seorang tokoh sufi yang cukup berpengaruh, menulis dalam bukunya Risalah Al-Qusyairiyyah–sebuah buku  yang menjadi referensi atau  rujukan para sufi, baik Sunni atau Syi’ah– mencantumkan istilah-istilah yang tidak bisa dipahami kecuali oleh orang yang belajar secara  khusus tentang ‘irfan. Ketika ada yang bertanya mengapa demikian, ia menjawab, ”Saya sengaja sebutkan istilah-istilah ini  supaya ‘irfan tidak menjadi buku kacangan atau buku bacaan pengantar tidur”.

Ungkapan dengan istilah-istilah yang tidak umum memang dengan mudah kita dapatkan dalam berbagai literatur ‘irfan. Puisi- puisi yang bermuatan cinta juga begitu banyak. Di antara yang menonjol misalnya terungkap dari sufi sekaligus penyair perempuan, Robi’ah al-Adawiyah. Sebelumnya, adalah sahabat Nabi seperti Ali bin  Abi Thalib dikenal sebagai sufi yang banyak mengungkapkan cinta kepada Tuhan. Apakah secara kebetulan misalnya kita temukan ungkapan Robi’ah al-Adawiyah yang  terkenal mirip dengan ungkapan Ali bin Abi Thalib. Kata Robi’ah, “Aku beribadat kepada-Nya bukan karena takut neraka atau mengharapkan surga”. Sementara ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Ada golongan yang beribadat kepada Allah karena mengharpkan sesuatu—itulah ibadatnya pedagang. Ada yang beribadat kepada Allah karena takut—itulah ibadatnya budak belian. Ada yang beribadat kepada Allah karena rasa syukur—itulah ibadat orang merdeka”.1

  1. Dikutip  dari  Madjid Fakhry,  Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, terj. Zainul  Am, (Bandung: Mizan, 2001), h. 43. Lihat juga  Imam  Khomeini,  40 Hadis Mistik Imam Khomeini, , Buku ke-1-3, (Bandung: Mizan, 1994), h. 8.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *