Konsep Irfan dalam Syair-Syair Imam Khomeini (2)

Oleh: Andi Eka Putra

Sebenarnya, tidak sedikit kaum sufi yang mengungkapkan rasa cinta dan kerinduan-Nya kepada Tuhan lewat syair atau sajak religius, bahkan ada yang melalui tarian, seperti Jalaluddin Rumi. Semua itu tiada lain agar  lebih merasakan langsung kehadiran Tuhan, merasakan berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan.

Imam Khomeini mengungkapkan dimensi ‘irfan-nya melalui sajak-sajak. Sajak-sajaknya banyak menggunakan metafora atau  simbol-simbol, yang  sepintas tak  masuk akal  dan sulit  dipercaya keluar dari gagasan Imam Khomeini. Kenyataan ini dapat dikatakan bahwa Imam Khomeini tak bisa  dilepaskan dengan tradisi penyair-penyair Parsi, seperti Rumi, Hafiz, Sa’di dan Khayyam. Umar Khayyam misalnya, selain sebagai ahli matematika dan astronomi, juga sebagai penulis karya sastra kemanusian yang popular, Ruba’iyyat (syair-syair empat bait). Salah satu puisinya yang berjudul “Putri Anggur”, Khayyam mengemukakan:

Kau tau sahabatku betapa cerah rumahku

Untuk perkawinan baru aku berpesta-pora,

menceraikan nalar tua bangka dan mencari

Putri Anggur sebagai teman setia

Mungkin kita tidak perlu kaget jika menemukan ungkapan- ungkapan yang memuji-muji anggur dan  perempuan yang mempesona dan rumah berhala, ini bisa dilihat dalam sajak Imam Khomeini berjudul “Akhir yang Manis”:

Dengan anggur O, kekasihku

Penuhi pialaku ini

Biarkan jangan kehormatanku melambung

Biarkan jangan namaku berkilau

Tuangan penuh-kasih dalam piala itu

Yang membanjiriku

Yang membasuh jiwa

Dari tipu daya yang angkara

Anggur istimewa penuh suka-cita

Merdekakan jiwa

Usirkan kegemilangan

Halaukan kebesaran

Anggur kenistaan

Yang orang hina mereguknya

Yang kepasrahan terbenam di dalamnya

Yang kehinaan tenggelam di dasarnya

Dalam naungan-suci cawan-anggur

Di kedai datang dan lihatlah

Kumenyelip dari setiap celah

Menyambuti daku para peri

Kalau kini kuharus pergi

Ke kumpulan pemabuk sejawat

Dengan basuhan anggur, siapa peduli

Pikirkan dunia ini

Wahai Andika hawa yang lembut

Selamati aku dan sambutlah

Saat seb’rangi sungai di sana

Ke kebun apel lembab itu

Dalam cawan kulewati

Belokan jalan-kehidupan ini

Kabari kepala biara itu

Betapa manis akhirku ini.

Di sini, pandangan sastra sufistik-religius Imam Khomeini sungguh di luar dugaan, dimana kebanyakan para ulama memandang sufi al-Hallaj telah menyimpang dari kebenaran Islam. Sementara Imam Khomeini melalui sajaknya justru memuji al- Hallaj. Selain itu, Imam Khomeini banyak mengelaborasi tentang keindahan berupa “tubuh  perempuan”, bibir yang molek dan sejenisnya, memang sering dipakai sebagai simbolisme keindahan (jamaliyyah) untuk sebutan kepada Sang Khalik. Sementara itu, anggur dan kemabukan mencitrakan ke-fana-an atau kehilangan kesadaran tentang diri sendiri demi baqa (tetap tinggal) bersama Tuhan.

Dalam sajak berjudul “Keterjagaan”—terjemahan Abdul Hadi WM—Imam Khomeini di bawah ini menampilkan kesan yang sepintas sangat eksotis, namun yang dimaksudkan tidak lain adalah ungkapan cinta yang mendalam kepada Sang Kekasih.

Bibir molek merah delimamu, titik hitam bundar di dahimu

Menjerat hatiku, kekasihku, dan bagai merpati aku terkurung

Pandang pilumu, menusukku hingga aku pun sakit dan merana

Namun fana dalam Kau membuat diriku yang tersiksa jadi bebas

Kupukul kendang “Ana al-Haqq,” seperti Mansur aku tahu

Apa tanggungannya, biar kurelakan nyawaku melayang

Sebab itulah jiwaku sembuh, terpana sembilan waktu

Dan pintu kedai anggurmu terbuka siang malam

Pada madrasah dan masjid aku sudah bosan

Jubah Fuqaha ini pun tak sanggup memberiku hiburan

Maka kukenakan baju fakir bertambal sulam

Yang membuatku sefar di tengah nyala api dan asap

Khutbah ulama menyebabkan mataku tertidur lelap

Nafas sempoyongan berbusa anggur menyampaikan kata emasnya

Tahu kau apa yang menyentak hingga terjaga?

Tangan molek pelayan kedai anggur membangunkan aku.

Sajak-sajak Imam Khomeni sepintas terkesan “mencela” sufi, “mencela” masjid atau mushola, “mencela” kesalehan dan jubah keulamaan dan “mencampakkan” sajadah. Dalam sajak “Mengoyak Jubah”, kritikan tajam Imam Khomeini terhadap hal-hal lahiriah terhadap jubah dan sajadah: jubah yang menipu dan munafik, sajadah yang penuh kepalsuan. Sementara dia “memuji” kemabukan, anggur, kedai dan perempuan yang mempesona. Karena ungkapan-ungkapan semacam itu  maka tak heran bila kebanyakan para sufi dituduh sesat dan kafir oleh para ulama yang berlainan paham.

Dalam sajak Imam Khomeini “Mengoyak Jubah” disebutkan:

Betapa kurindu ‘tuk meneguk

Segelas anggur dari tangan kekasihku

Wahai, dengan siapa berbagi rah’sia

Ke mana kubawa keluh-kesah ini

Kupasrahkan hidup dalam asa

‘Tuk saksikan  wajah sang sobat

Aku bak kupu-kupu kitari lampu

Aku bak biji terbakar di perapian

Jubah ini tipu dan munafik melulu

Sajadah ini pun penuh palsu

Bisakah mengoyaknya aku

Persis di depan gerbang kedai itu

Jika sobat dari gelasnya kekasih

Seteguk kecil mau mengasih

Jiwa ini dalam-jubah-hidupku

Sebagai imbalan senang kuberi

Aku renta meski bisa juga belia

Anugerahiku pandang-manismu

Biar bisa dari rumah kecil ini

Alam semesta aku menjadi.

Kesulitan memahami ungkapan ‘irfani seperti itu, seperti juga sajak-sajak Imam  Khomeini yang lain, ialah bahwa pengungkapan ajaran dan  pengalaman mereka seringkali menggunakan kata kiasan (matsal) dan perlambang (ramz) atau simbolisme. Karena itu, ungkapan-ungkapan yang mereka kemukakan harus dipahami dalam kerangka interpretasi metaforis atau tafsir batini (ta’wil). Dan  ta’wil  memang yang menjadi metode pokok mereka dalam memahami teks-teks sufistik, baik yang bersumber langsung dari Kitab Suci maupun Hadits Nabi.

Bersambung………..

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *