Pandangan Ayatullah Baqir Shadr terhadap Kesenjangan Etika dan Ekonomi (1)

Pendahuluan : Sejarah Etika dan Ekonomi

Pada abad ke – 18 ilmu ekonomi diajarkan sebagai bagian dari etika dan filsafat moral di berbagai perguruan tinggi Eropa. Contoh paling terkenal dari ajaran ini adalah pemikiran Fancis Hutcheson, guru Adam Smith dari Universitas Glasgow. Berdasarkan karyanya A Short Introduction to Moral Philosophy (1), dapat disimpulkan bahwa kuliah yang diberikan Hutcheson terbagi dua. Bagian pertama berkaitan dengan kebajikan dan hukum alam. Bagian kedua, terbagi menjadi tiga pembahasan yaitu hak privat, ekonomi dan politik. Menurut pandangannya,ekonomi berada di bawah hukum alam (yurisprudensi) dan hukum alam itu sendiri berada di bawah filsafat moral.

Smith sangat dipengaruhi ide-ide Hutcheson. Tidak heran, setelah ditunjuk sebagai dosen filsafat moral di Universitas Glasgow, ia meneruskan pemikiran gurunya. John Millar, mahasiswa Smith, menjelaskan bahwa rangkaian filsafat moral Smith meliputi empat bagian. Yaitu, Teologi Natural, Etika (diterbitkan dengan judul The Theology of Moral Sentiments, edisi pertama, 1759), Keadilan (diterbitkan setelah kematiannya, sebagai Lecture on Jurisprudence), dan yang terakhir adalah Regulasi Politik yang dilandasi oleh kegunaan dan perhitungan untuk meningkatkan kekayaan, kekuasaan dan kemakmuran negara (diterbitkan secara luas dengan judul The Wealth of Nations, edisi pertama 1776). Bagi Smith, ekonomi atau yang disebutnya sebagai ekonomi politik adalah bagian dari skema besar filsafat moral.

Kesenjangan Etika dan Ekonomi

Kesenjangan etika dan ekonomi bisa dikaji dari dua perspektif. Yaitu, metode positivistik dan asumsi fundamental berikut aksioma yang digunakan dalam masing-masing bidang. Para ekonom yang bersikeras tentang keniscayaan penggunaan metodologi positivisme dalam evaluasi teori ekonomis, sewajarnya tidak memberikan tempat bagi proposisi etika yang bermuatan nilai. Karena itulah mereka memberi jalan bagi kesenjangan dua ranah pembelajaran ini. mengenal peran positivisme sendiri, Drakopoulos berargumen (2) :

“Mayoritas ekonom sekarang ini… akan sependapat bahwa klaim teori ekonomi nirnilai adalah sesuatu yang esensial dalam pembentukan karakter ilmiah suatu disiplin. Dalam pengertian tidak bersandar pada model penilaian apapun atau kerangka filosofis atau psikologis apapun, pada umumnya ekonomi positif yang bebas-nilailah yang dianggap ideal.”

Pendekatan ini membawa dampak besar pada cabang-cabang ekonomi yang penting, smeisal teori mikro ekonomi. Sedangkan metodologi John Stuart Mill dan lainnya mendefinisikan ilmu ekonomi diterima secara lebih kuat. Dengan demikian, kepedulian moral pada prakteknya telah dihilangkan dari teks ekonomi. Positivismelah yang berperan besar disini. Berbagai metodologis positivistis karya Robbins dan Friedman benar-benar mempengaruhi profesi ini dan menyisakan efek negatif bagai karakter ekonomi sebagai suatu ilmu moral. (3)

Tidak heran, proposisi etis dengan konsep bermuatan nilai dihilangkan dari ranah ekonomi. sedangkan proposisi semisal, “Bekerja untuk kepentingan orang lain adalah baik,” “Semua orang harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk orang lain,” atau “Menabung untuk pendidikan anak yatim adalah baik” sekarang dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar diskursus ilmu ekonomi. Ini karena positivisme tidak mampu mengevaluasi pernyataan-pernyataan yang memiliki konsep nilai semisal “baik” atau “seharusnya”.

Selain dengan itu,asumsi dan aksioma fundamental mengindikasikan bertambahnya kesenjangan antara etika dan ekonomi. Ini tidak lain akibat upaya memenuhi kepentingan pribadi secara maksimal disandarkan sebagai penentu prilaku manusia yang rasional.

Menurut asumsi ini, teori ekonomi semata-mata dilandasi oleh prilaku manusia yang tidak memikirkan apapun kecuali keuntungannya sendiri. Dalam pandangan inilah Amartya Sen menggarisbawahi fungsi rasionalitas yang menentukan, terkait dengan “pengupayaan keuntungan pribadi” dalam keseimbangan umum secara keseluruhan dan optimalitas yang didekatkan oleh Pareto. Sen menulis:

“Preseden rangkaian perilaku rasional yang mementingkan pemaksimalan kepentingan pribadi sejalan dengan analisis prilaku sehingga lebih mudah daripada mempertimbangkan asumsi-asumsi yang kurang mteratur.” (4)

Perilaku ekonomis manusia, baik dalam mikro maupun makro ekonomi, pada umumnya dilandasi oleh asumsi kepentingan pribadi yang bersifat kuantitatif dan sejalan dengan kepentingan pribadi. Menurut pandangan ini, prilaku etika seperti niat baik atau simpati atau kepedulian terhadap kesejahteraan umum, tidak bisa dipakai sebagai aksioma teori ilmiah. Menihilkan perilaku etika semacam ini sama persis dengan mementingkan kepentingan pribadi yang kuantitatif dan material, juga menihilkan sifat manusia lainnya. (5)

Pandangan Ayatullah Baqir Shadr tentang Akar Persoalan Kesenjangan antara Etika dengan Ekonomi

Sewajarnya ekonomi mengevaluasi perilaku manusia dari sudut pandang tersendiri dan merangkai teori-teorinya selaras dengan motif mendasar yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

Sudah pasti, mencintai diri sendiri adalah motif yang paling mendasar dan tidak sedikit motif lainnya yang merupakan turunannya. Mengingat fakta bahwa manusia memikirkan keuntungan material dan bahwa motif mendasarnya dalam interaksi ekonomi tidak lain adalah cinta-diri atau kepentingan pribadi.

Wajarlah apabila seseorang ingin bekerja untuk mencapai hasil maksimal bagi keuntungan pribadinya. Karena itulah juga asumsi yang dikemukakan para teoritikus ekonom tidak lain adalah perilaku ekonomi yang berakar dari kepentingan individu. Sedemikian rupa hingga asumsi mendasarnya, yaitu landasan teori mereka adalah pengejaran keuntungan peibadi yang maksimal.

Akar persoalan ini bukanlah lantaran saling bekerja sama dan keinginan kebaikan bagi orang lain merupakan perilaku sosio-etis yang tidak dikenal oleh manusia. Bukan pula karena manusia tidak terlibat dalam perilaku semacam itu akibat kejahiliannya.

Akar fundamental dari persoalan kesenjangan dan keterpisahan perilaku etika dengan ajaran ekonomi haruslah dicari dalam pemikiran yang memandang kepentingan-diri pribadi sebagai kiretria perilaku yang rasional.

Pemikiran ini dapat diringkas sebagai berikut: Setiap kali manusia selaku makhluk sosial meyakini bahwa kehidupan hanyalah terbatas pada dunia material saja dan bahwa keuntungan atau kesenangan apapun hanya terdapat di dunia saja, dan seterusnya menempatkan pemikiran ini berdampingan dengan kepentingan-diri yang tertanam dalam masing-masing individu, maka manusia semacam itu tidak mampu memandang suatu target atau tujuan selain keuntungan pribadi yang murni material.

Perilaku ekonomi orang seperti ini tidak akan bisa berkoordinasi dengan kesejahteraan orang lain. Apalagi kepentingan-diri merupakan karakteristik dan naluri yang paling mendasar dan fundamental. Sedangkan kualitas naluri lainnya seperti pemeliharaan-diri, keinginan terhadap kesenangan dan keberuntungan, menghindari kepedihan dan penderitaan hanyalah cabang dan turunan dari karakteristik fundamental yang telah disebutkan. Oleh karena itu, seluruh perilaku manusia dalam modalitas sosialnya diwarnai oleh kepentingan-pribadi atau cinta-diri yang telah ada sejak dia dilahirkan.

Kondisi semacam ini tentulah manusia tidak rela menerima seandainya dia diposisikan dalam kesusahan atau tekanan sementara dirinya harus menjalankan tugasnya bekerja untuk kepentingan orang lain.

Perinsipnya pada diri manusia terdapat potensi besar untuk menikmati kepuasan dari berbagai hal, baik itu material ataupun spiritual. Contohnya, kepuasan kuliner, kepuasan seksual dan kepuasan dengan nilai-nilai moral. Potensi dan kekuatan terpendam untuk mengejar kepuasan ini tidak aktif dengan cara yang seragam dalam segala macam situasi.

Mengingat kecendrungan alamiah, sosial dan pendidikan masing-masing individu itu berbeda-beda, tidak heran beberapa potensi ini lebih cepat aktif dibandingkan yang lainnya. Contohnya adalah naluri untuk mencapai kepuasan seksual. Pada sebagian orang, naluri ini muncul lebih cepat dibandingkan potensi lainnya.

Tetapi harus diperhatikan, kepentingan-diri atau cinta-diri yang esensial adalah landasan bagi semua potensi. Dan perilaku manusia dibentuk oleh potensi-potensi yang menunggu untuk diaktualisasikan. Boleh jadi seseorang memiliki potensi yang membuatnya sanggup dan bersedia memberikan makanannya sendiri untuk orang lain.

Alasannya, karena dia mendapat kepuasan dengan berkorban dan bersumbangsih bagi kemanusiaan. bisa jadi pula seseorang mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga dia tetap memntingkan dirinya sendiri diantara sesamanya yang kelaparan. Ini tidak lain karena potensi altruismenya belum berkembang.

Tetapi pada umumnya adalah kedua potensi ini dilandasi kepentingan-diri. Kedua kasus diatas tidaklah berbeda. Orang pertama mendapat kepuasan dari nilai etika dan kebajikan orang melalui jalan membantu orang lain. Sedangkan orang kedua, yang memilih mengenyangkan diri sendiri ketimbang orang lain, juga dilandasi alasan yang sama. Meski demikian, aktualisasi potensi yang berlainan membuat perilaku mereka berbeda.

Karena itu, setiap kali kita ingin seseorang berprilaku etis yang positif demi kebaikan mereka sendiri, maka kita harus mengubah perspektif mereka dengan mengindahkan kepuasan dan keuntungan. Selain itu, perilaku yang kita harapkan harus selaras dengan kepentingan-diri yang tertanam dalam diri mereka.

Kepentingan-diri itulah yang kemudian mampu membimbing dan menyuburkan beraneka jenis potensi manusia. Tetapi, apabila kehidupan terbatas pada yang bersifat materi semata dan kesenangan terbatas pada ranah fisik saja, maka satu-satunya jalan yang bisa ditempuh seseorang adalah memiliki pendapatan sehingga dia bisa menggunakannya untuk memuaskan kecendrungan dan hasrat pribadinya.

Kendati manusia tetaplah manusia dan menjalankan kehidupan pada dunia ini saja, dia mendapatkan cinta-diri membungkah dalam dirinya dan memberikan pengaruh pada seluruh kehidupan interaksi sosialnya.

Pada suatu titik sejarah, terdapat klaim bahwa tanpa mengindahkan aspek metafisik, persisnya membatasi pada dunia materi saja, tidaklah mustahil mengubah karakter manusia sehingga dia tidak lagi memikirkan keuntungan pribadinya, melainkan memikirkan kemaslahatan masyarakat (contohnya Marxisme).

Namun, tahap ini hanya sebentar dan akan segera berlalu. Para pengusung pandangan dan klim semacam itu menyadari, tidaklah mungkin kita merasa dan meyakini bahwa kehidupan terbatas di dunia ini saja, namun pada saat yang sama melupakan kepentingan pribadi demi berkarya bagi kebaikan orang lain.

Bersambung . . . . . . .

Sumber :

(1) Ian Ross, The Life of Adam Smith, Clarendon Press, Oxford, 1995

(2) S.A. Drakopoulos, “Origin and Development of Trend towards Value-Free Economics”, Journal of the History of Economics Thought, hal.19 dan 20, 1997.

(3) Robbins, The Nature and Significance of Economic Science, Macmilian, London, 1935.

(4) (Sen, 1987)

(5) F. Machlup, Methodology of Economics,hal.216-218, Academic Press, London, 1978.

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *