Pandangan Ayatullah Baqir Shadr terhadap Kesenjangan Etika dan Ekonomi (2)

Solusi yang Ditawarkan Ayatullah Baqir Shadr

Menyadari realtas bahwa perilaku manusia dalam berbagai lingkup sosialnya dipengaruhi oleh rasionalitas maupun emosi, Ayatullah Baqir Shadr berusaha mengidentifikasi daya motivasi yang memiliki muasal batiniah. Daya ini juga mampu mengarahkan perilaku rasional sekaligus emosional manusia sehingga perilaku etis dan altruismenya bergerak selaras dengan kepentingan pribadinya.

Dengan demikian, seluruh jenis perilaku manusia secara alamiah dimotivasi oleh kepentingan dirinya sekaligus kepentingan sosial. Usulan ini bertujuan meraih target yang telah disebutkan, melalui perubahan kepercayaan dan keyakinan manusia yang bersifat batiniah. (7)

Perubahan keyakinan tersebut melibatkan kesadaran akan akhirat dan pengakuan bahwa takdir manusia di akhirat selaras dengan caranya melakoni kehidupannya di sini dan sekarang. Melalui keyakinan keagamaannya menyangkut kehidupan material, manusia akhirnya memandang dunia ini sebagai suatau tahapan untuk menuju dunia lain.

Manusia juga akan paham bahwa perbuatannya di dunia akan mempengaruhi takdirnya. Manusia semacam ini tidak lagi mampu menyelaraskan perilaku sosialnya dengan kepentingan pribadinya yang bersifat material belaka. Dengan kata lain, dalam proses tersebut, dia tidak akan mengabaikan takdir hakikinya di kehidupan lain.

Ini tidak lain karena keyakinan keagamaan yang memiliki cakupan pandangan yang jauh lebih luas terhadap pemikiran dan perbuatan manusia semacam ini tidak dapat berhenti pada tahap dunia saja. Dia tidak akan menutup mata terhadap gubungan dan ikatan antara dunia yang sekarang dengan dunia berikutnya.

Kepentingan-diri dan cinta-diri yang dimiliki manusia merupakan pilar yang paling mendasar. Dari pilar inilah seluruh perasaan dan kecendrungan manusia bersemayam. Namun, apabila akal dan kesadaran manusia meluas hingga meliputi akhirat, maka kepentingan-diri itu akan terpanggil unutk berbuat dan berprilaku sedemikian rupa untuk meraih keuntungan dunia maupun akhirat.

Tidak diragukan lagi, perilaku yang menjamin keuntungan di akhirat nanti tidaklah serupa dengan perilaku egoistis atau individualis. Karena karakter itu hanya mementingkan keuntungan materil di dunia semata. Keyakinan keagamaan ini melahirkan arah dan tujuan kepada kepentingan-diri dalam batin manusia bahwa perwujudan keuntungan duniawi merupakan keharusan bagi individu.

Namun tidak hanya sebatas itu, karena ia juga mengikutsertakan sumbangsih kemanusiaan sebagaimana juga perbuatan etis sosial lainnya. Hasilnya, baik rasionalitas maupun kepentingan-diri manusia diarahkan secara alamiah sehingga mereka tidak hanya akan berkarya demi dirinya sendiri, namun juga bagi kebaikan sosial. Dengan demikian, pemikiran, pandangan dunia, kecendrungan, dan emosi tumbuh bersama-sama secara harmonis.

Pandangan yang umum di kalangan ekonom adalah utilitarianisme yang menganggap manusia sebagai makhluk yang egoistis. Tidak heran, manusia semacamitu tidak boleh diusik oleh persoalan semisal melebarnya kesenjangan ekonomi antar-kelas sosial, konsumerisme, polusi, juga kerusakan lingkungan. Pasalnya, masalah-masalah itu tidak mempengaruhi kepentingan pribadinya.

Berlawanan dengan pandangan tersebut, manusia didefinisikan dengan cara yang lebih seimbang. Adalah fakta bahwa manusia memiliki naluri tertentu yang serupa dengan hewan dan bahwa dia mengejar kepentingan-diri.Meski begitu, manusia menghormati kebenaran dan kejujuran, serta menjunjung upaya kemanusiaan dan mencari Tuhan.

Pandangan terakhir ini tidak lantas menyiratkan bahwa manusia tidak mengejar keuntungan pribadi. Justru mereka mencari keuntungan pribadi supaya selaras dengan perilaku jujur dan ketentuan Tuhan. Dengan demikian, kita bisa mendefinisikan perilaku ekonomi yang rasional dalam dua dimensi yang berlawanan.

Pertama, pilihan dan perilaku rasional untuk memenuhi target dengan ongkos yang sekecil-kecilnya dan efisiensi yang maksimal. Yang menjadi bahan pertimbangan pilihan pertama adalah pencapaian praktis atau aktual terhadap target berdasarkan ongkos dan resiko sekecil-kecilnya. Lantaran banyak cara yang bisa ditempuh untuk sampai ke sana, maka pandangan kehidupan dan eksistensi manusia yang lebih luas tidaklah begitu penting.

Kedua, pilihan dan perilaku rasional berkisar di sekitar kebenaran dan validitas tujuan sebagaimana sarana untuk mencapainya. Pilihan ini tidak mensahkan pendekatan “segala cara”, melainkan jalannya harus dipikirkan seakurat mungkin dan selaras dengan keyakinan agama.

Dari penjabaran ini, jelaslah bahwa teori ekonomi masa kini yang berhubungan dengan permintaan dan penawaran, pasar, keseimbangan, kompetisi yang sempurna, konsumsi, investasi dan lain-lain, dilandasi oleh model pertama dan cocok untuk “orang ekonomis”. Sedangkan dalam model kedua, ekspektasi pelaku ekonomi dan perilaku rasionalnya berbeda sehingga teori yang dianut berbeda.

Seandainya ekonom hendak mengambil model kedua, maka pertama-tama dia harus meninjau ulang metode yang selama ini diterapkannya. Sebagai contoh, mereka tidak membatasi seluruh perilaku ekonomi pada keuntungan pribadi yang material saja, melainkan mempertimbangkan pula kepedulian moral sosial.

Kedua, mereka tidak memandang perilaku rasional sejajar dengan mengejar keuntungan pribadi yang material. Mereka seharusnya justru memandang rasionalitas atau perilaku rasional sebagai perilaku seimbang yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, melainkan juga orang lain. (8)

Tentu saja, tidak boleh dilupakan bahwa esensi perubahan fundamental itu bisa dijumpai dalam aksioma yang relevan dengan keyakinan agama terkait dengan metodologi dan teori ekonomi. Seandainya kebijakan pendidikan umum meliputi ajaran agama dan iman kepada Sang Pencipta dunia dan memandang manusia secara utuh sebagai makhluk yang melintasi dunia untuk menuju dunia lain, maka para ekonom seharusnya tidak mengadopsi perspektif yang sempit seperti itu.

Prospek ekonomi pun akan menjadi sesuatu yang berbeda total. Barangkali, lantaran klaim inilah,sebagian ekonom menganggap asumsi ekonomi tidak realistis. Dan mereka lebih condong pada pernyataan atau pemikiran yang lebih etis dan bermuatan nilai. Pemikiran-pemikiran dalam tulisan ini bisa diringkas sebagai berikut:

  1. Ekonomi Hibah. Menjauhkan diri dari keegoisan bukanlah sesuatu yang tidak rasional. Di lain pihak, seperti yang dikatakan Frank Hahn,”Hari-hari ketika para ekonom mulai mengandalkan rasionalitas yang didefinisikan sebagai kalkulasi yang akurat dan kepribadian yang teratur adalah hari ketika dia melakukan kesalahan. (9) Diluar pemikiran ini, bukanlah rahasia bahwa tugas model ekonomi adalah memprediksikan fenomena mendatang secara benar dan bermakna. Sepertinya, mengasumsikan perilaku rasional yang mempertimbangkan pengorbanan-diri akan membuahkan hasil yang lebih bermakna. Lantaran alasan inilah, Boulding Optimum akhirnya menggantikan Pareto Optimum. Boulding berusaha mengikutsertakan kecendrungan (subjektif) ke dalam analisis ekonomi. Persisnya berbagai hal yang dihilangkan dari analisis tersebut karena dipandang sebagai pernyataan yang tidak objektif. (10)
  2. Berikutnya adalah riset ilmiah yang dilandasi asumsi mengenai pernyataan nilai secara insidental. Dengan kata lain, pandangan bahwa sains itu bebas nilai dan objektif menyangkut pernyataan nilai adalah pandangan yang keliru dan tidak bisa dijustifikasi. Lantaran alasan inilah Amartya Sen percaya bahwa pemisahan ekonomi dari etika telah menggrogoti kesejahteraan publik. Sama seperti yang dilakukan ekonomi deskriptif dan prediktif (kuantitatif). Akan lebih bermanfaat seandainya ilmu ekonomi memeberikan nilai lebih pada bangunan etika yang menginformasikan perilaku manusia dan pemikiran yang rasional. (11)

Seandainya kita ingin menekankan pemikiran etika dan menipiskan “kesakralan” ide keuntungan pribadi dan pandangan manusia ekonomis, pastilah ada alasan untuk berharap. Karena pada dua abad terakhir, ketidakpedulian menyangkut nilaitelah sedemikian intensnya sehingga mustahil kondisi ii berbalik kecuali agama ikut bermain dalam arena. Dengan menekankan pentingnya agama dalam sejarah akhlak manusia, Owen Chadwick mengatakan, “Kecuali sekedar sedikit pergeseran atau hanya di tepian, moralitas manusia tidak pernah berpisah dari agama”. (12)

Sebagai kesimpulan, cara paling efektif untuk menghilangkan jarak antara etika dengan ekonomi adalah dengan menghidupkan kembali nilai-nilai dan keyakinan agama. Apabila ini dilakukan, manusia ekonomis dan perilakunya akan serasi dengan perilaku sosial etis.

Selain itu, teori ekonomi akan mencakup pula spektrum perilaku manusia secara utuh, mulai dari yang ekonomis hingga atis dan dari individu hingga sosial. Apabila ini tercapai, akan berakhirlah kesenjangan antara perilaku etis dengan perilaku ekonomis dalam teori ekonomi maka kini.

Sumber :

(7) Shadr, 1525 H./a, hal.125-129; 1425 H./b, hal. 31-37

(8) Shadr, 1401 H,hal.30-50; 1425 H./a, hal.141-149; 1979,hal.317-334.

(9) F.H. Hahn dan Martin Hollis, Philosophy and Economic Theory, Oxford University Press, Oxford, 1979.

(10) Robert A. Solo dan Charles W.Anderson, Value Judgement and Income Distribution, Prager, New York, 1981.

(11) Amartya Sen, On Ethics and Economics, hal. 87-89, 1987.

(12) Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, hal. 229-234, Cambridge University Press, Cambridge, 1975.,

Share this:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *